16 Juni 2008

Program Idad Lughawi

Terdapat tiga program studi perkuliahan intensif Ma'had Al-Imarat yaitu I'dad, Takmili, dan Tahfizh. Selain perkuliahan Intensif juga tersedia Kelas Non Intensif.

Masa pendidikan menurut kurikulum Ma'had Al-Imarat putra / putri Bandung, terdiri atas dua tahun untuk I'dad Lughawi (plus 1 semester kelas persiapan bagi yang memerlukan), dan setahun untuk Takmili (tingkat lanjutan).

Jenjang pendidikan untuk tingkat I'dad Lughawi terdiri dari Level/ Kelas Persiapan (tamhidi) bagi yang memerlukan atau belum pernah belajar bahasa Arab, Level I (al mustawa al awwal), Level II (al mustawa al tsaany), Level III (al mustawa al tsaalits) dan Level IV (al mustawa al roobi'). Tiap level dapat ditempuh dalam satu semester. Pada proses penerimaan mahasiswa baru, diadakan seleksi penempatan (placement test) untuk menetapkan pada level manakah sang kandidat mahasiswa baru cocok memulai pendidikannya, apakah pada level persiapan, level I, level II, atau level III.

Program Terdiri dari Keterangan
Idad Lughawi Kelas Persiapan 1 Semester/ Bagi yang memerlukan

Level I 1 Semester/ Bagi yang memerlukan

Level II 1 Semester/ Bagi yang memerlukan

Level III 1 semester

Level IV 1 semester



Takmili Takmili I 1 semester

Takmili II 1 semester

Setelah menyelesaikan program I'dad Lughowi, mahasiswa yang memiliki prestasi yang sangat baik (jayyid jiddan) dapat melanjutkan ke Tingkat Takmili (tingkat lanjutan). Sedangkan bagi mahasiswa yang memperoleh predikat Imtiyaz (sangat memuaskan) dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat takmili LIPIA Jakarta.

Materi kuliah (al mawaad al dirosiyyah) yang diajarkan di Ma'had Al Imarat adalah : Tafsir, Hadits, Fikih, Ushul Fikih, Adab, Balaghah dan Naqd, Tasrif, Nahwu, Qiro'ah, Ta'bir Tahriry, Al Quran, Ta'bir Syafawy, Imla, Tauhid, Tarikh Islam, dan Tsaqofah Al-Islamiyah, Dan kitab pegangan yang dipergunakan adalah buku-buku yang diterbitkan oleh Universitas Al Imam Muhammad Ibnu Su'ud Al Islamiyyah di Riyadh serta beberapa buku yang diterbitkan oleh LIPIA Jakarta. Materi-materi perkuliahan tersebut disampaikan melalui berbagai macam metode pengajaran antara lain, ceramah, diskusi, tanya-jawab, audio visual, dll. dengan pengantar bahasa Arab.

MATERI JAM KULIAH PER-PEKAN
(INTENSIF 5 HARI)
Level
Persiapan*
Level
1
Level
2
Level
3
Level
4
I. STUDI ISLAM




1. Al-Quran 2 1 2 2 2
2. Tafsir - 1 1 1 1
3. Hadits 2 - 2 2 2
4. Tauhid - - - 1 1
5. Fiqh - - - 1 1
6. Ushul Fiqh - - - - 1
7. Tarikh Islam - - - 1 1
8. Kebudayaan Islam - - - 1 1
II. BAHASA ARAB




1. Qira'ah - 6 6 3 2
2. Kitabah 1 1 1 1 1
3. Ta'bir Syafawi - 4 4 3 3
4. Ta'bir Tahriri - 2 2 4 3
5. Hiwar 7 - - - -
6. Ashwat 2 3 - - -
7. Tadribat 10 6 6 - -
8. Nahwu& Sharaf - - - 4 -
9. Adab Araby - - - 1 3
10. B a l a g h a h - - - - 1
11. K h a t 1 1 1 - -
Jumlah Jam 25 25 25 25 25
Jumlah Materi 7 9 9 13 15
* Kelas Persiapan ditempuh selama 1 semester
(bagi peserta yang belum pernah belajar bahasa Arab)

Waktu belajar efektif lima hari perpekan, lima jam perhari. Waktu perkuliahan dibagi dalam 2 (dua) shift yaitu shift pagi dan sore. Shift pagi dimulai pukul 07.30 s/d 12.25 WIB dan shift sore dimulai pukul 14.00 s/d 20.00 WIB.

Baca Selengkapnya......

Perihal Ma'had


Ma'had Al Imarat adalah sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak para da'i yang fasih berbahasa Arab dan tentu saja mumpuni dalam ilmu keislaman. Sebagaimana diketahui, kemampuan berbahasa Arab sangat berperan dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman karena sumber otentik Islam, yaitu Alquran dan As-Sunnah menggunakan bahasa Arab. Ditambah lagi sebagian besar kitab-kitab dari para ulama besar Islam pada umumnya juga berbahasa Arab. Karena itu, penguasaan bahasa Arab tak pelak menjadi sebuah kebutuhan, bahkan keharusan bagi para sarjana ilmu-ilmu keislaman.

Ma’had Al-Imarat resmi berdiri pada tahun 1999, berawal dari keprihatinan sejumlah dermawan dari Uni Emirat Arab terhadap rendahnya penguasaan bahasa Arab masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, jumlah orang Indonesia yang menguasai bahasa Arab tergolong rendah. Bahkan, sarjana-sarjana di bidang keislaman sekalipun masih sedikit yang mampu berbahasa Arab, baik secara lisan maupun tulisan. Untuk itu, mereka berkeinginan menyebarkan bahasa Arab sekaligus memperkuat basis pengetahuan Islam di kalangan kaum muslim Indonesia.

Keinginan ini kemudian direalisasikan dengan mendirikan Ma'had Al Imarat Bandung, bekerjasama dengan Pimpinan Pusat Persatuan Islam. Di samping Ma’had Al- Imarat, sejumlah ma'had sejenis juga telah didirikan di beberapa kota di Indonesia seperti Ma'had Al Bier di Makasar, Ma'had Umar bin Khattab di Surabaya, Ma'had Abu Bakar di Solo, dan Ma'had Utsman bin Affan di Jakarta.

Di Bandung sendiri telah berdiri tiga bangunan Ma'had, yaitu Ma'had Al-Imarat putra yang terletak di Jl.Inhoftank, Ma'had Al-Imarat putri yang terletak di Gg.Muncang, dan Ma'had Tahfizh yang terletak di Ciparay.

Kurikulum pendidikan Ma'had Al-Imarat putra dan putri Bandung mengikuti kurikulum Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, dengan lama pendidikan, untuk I'dad Lughawi (tingkat persiapan bahasa) dua tahun, terdiri dari 4 (empat) semester, sedangkan untuk Takmili (tingkat lanjutan) satu tahun terdiri dari 2 (dua) semester, dengan efektifitas belajar selama 5 (lima) hari dalam sepekan.

Jenjang pendidikan untuk tingkat I'dad Lughawi terdiri dari level persiapan (tamhidi), Level I (al mustawa al awwal), Level II (al mustawa al tsaany), Level III (al mustawa al tsaalits) dan Level IV (al mustawa al roobi'), dan bagi mahasiswa yang memiliki prestasi yang sangat baik (jayyid jiddan) dapat melanjutkan ke Tingkat Takmili (tingkat lanjutan). Dan bagi mahasiswa yang memperoleh predikat Imtiyaz (sangat memuaskan) dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat takmili LIPIA Jakarta.

Waktu perkuliahan dibagi dalam 2 (dua) shift yaitu shift pagi dan sore. Shift pagi dimulai pukul 07.30 s/d 12.25 WIB dan shift sore dimulai pukul 14.00 s/d 20.00 WIB.

Materi kuliah (al mawaad al dirosiyyah) yang diajarkan di Ma'had Al Imarat adalah : Tafsir, Hadits, Fikih, Ushul Fikih, Adab, Balaghah dan Naqd, Tasrif, Nahwu, Qiro'ah, Ta'bir Tahriry, Al Quran, Ta'bir Syafawy, Imla, Tauhid, Tarikh Islam, dan Tsaqofah Al-Islamiyah, Dan kitab pegangan yang dipergunakan adalah buku-buku yang diterbitkan oleh Universitas Al Imam Muhammad Ibnu Su'ud Al Islamiyyah di Riyadh serta beberapa buku yang diterbitkan oleh LIPIA Jakarta. Materi-materi perkuliahan tersebut disampaikan melalui berbagai macam metode pengajaran antara lain, ceramah, diskusi, tanya-jawab, audio visual, dll. Seluruh kegiatan perkuliahan menggunakan bahasa pengantar bahasa Arab.

Mudah-mudahan amanah dan cita-cita luhur tersebut dapat direalisasikan dan diimplementasikan oleh Ma'had Al Imarat seraya memohon pertolongan dan bimbingan dari Allah SWT.

Semoga segala upaya dan usaha yang telah dilakukan oleh seluruh stakeholder dalam pengembangan Ma'had Al Imarat mendapat pahala di sisi Allah SWT.


Amin yaa rabbal 'aalamin.

Mudir Ma’had
Kardita Kintabuwana Lc. MA.

Baca Selengkapnya......

26 Mei 2008

Khubaib bin Adi

Khubaib bin Adi

Sesudah selesai pemancungan Zaid, datang pula rombongan lain yang menyeret Khubaib bin Adi. Sesuai dengan hukum yang berlaku di seluruh Tanah Arab, kepada pesalah yang dijatuhi qisas mati diberikan hak untuk menyampaikan permintaan terakhir. Demikian juga Khubaib. Juru dakwah yang bestari ini meminta izin untuk solat sunnah dua rakaat. Permohonan tersebut dikabulkan. Dengan khusyuk dan tenang, seolah-olah dalam suasana aman tenteram tanpa ancaman kematian, Khubaib melaksanakan ibadahnya sampai selesai. Setelah salam dan mengangkat dua tangan, ia berkata, "Demi Allah. Andaikata bukan kerana takut disangka aku gentar menghadapi maut, maka solatku akan kulakukan lebih panjang." Khubaib disalib dahulu lalu dihabisi sepertimana dilaksanakan ke atas Zaid bin Abdutsunah. Jasadnya telah lebur sebagaimana jenazah lima sahabatnya yang lain. Namun semangat dakwah mereka yang dilandasi keikhlasan untuk menyebarkan ajaran kebenaran takkan pernah padam dari permukaan bumi. Semangat itu terus bergema sehingga makin banyak jumlah pendakwah yang dengan kekuatan sendiri, atas biaya peribadi, menyelusup keluar-masuk pedalaman berbatu-batu karang atau berhutan-hutan belantara buat menyampaikan firman Tuhan menuju keselamatan

Tentang kritikan keempat, ketika saya masih jahiliah saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin Adi dihukum oleh kaum Quraisy yang kafir. Saya menyaksikan tubuhnya dicincang oleh orang Quraisy. Mereka bawa tubuh itu dengan tandu sambil bertanya kepada Khubaib, ‘Mahukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sihat wal afiat?’ Jawab Khubaib, ‘Demi Allah, saya tidak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia manakala Rasulullah SAW ditimpa bencana walau oleh tusukan duri sekalipun...’ “Setiap kali saya terkenang peristiwa itu tubuh saya gementar kerana takut akan siksa Allah dan saya berasa berdosa kerana pada waktu itu saya tidak dapat membantu Khubaib sedikit pun. Dan saya berasa dosa saya tidak akan diampuni Allah SWT....!”

Baca Selengkapnya......